Bacaan Hari Ini:
"Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Ibrani 12:5-6
Real Talk: Reaksi Saat Berbuat Salah
Bagaimana perasaanmu saat seseorang menegurmu karena kamu berbuat salah?
Mungkin lewat khotbah yang terasa sangat "menusuk" hati, lewat nasihat keras dari seorang sahabat, atau lewat kegagalan yang terjadi karena kecerobohanmu sendiri.
Reaksi pertama kita biasanya ada dua:
Pertama, kita menjadi sangat defensif (membela diri) dan mencari alasan.
Kedua, kita menjadi sangat down, merasa bersalah, dan langsung berpikir: "Tuhan pasti udah muak sama aku. Dia lagi ngehukum aku karena Dia benci lihat kelakuanku yang begini terus."
Kita terbiasa menyamakan teguran Tuhan dengan kemarahan manusia.
Kalau manusia marah, biasanya karena mereka merasa terganggu, dirugikan, atau ingin membalas dendam. Saat kita berpikir Tuhan juga seperti itu, kita jadi ketakutan dan perlahan menjauh dari-Nya. Kita merasa Dia sedang memegang tongkat besar, bersiap memukul kita karena kita anak yang nakal.
Tapi, benarkah begitu isi hati Bapa saat Dia menegur kita?
The Truth: Pisau Bedah, Bukan Pedang
Kitab Ibrani mengingatkan kita pada satu kebenaran yang sering terlupakan: Tuhan mendisiplinkan justru karena Dia mengasihi.
Coba bayangkan kamu melihat seorang anak balita sedang asyik bermain dengan pisau yang tajam. Apa yang akan kamu lakukan?
Kamu pasti akan segera merebut pisau itu dari tangannya. Mungkin kamu merebutnya dengan sedikit keras sampai si anak kaget dan menangis.
Apakah kamu merebut pisau itu karena kamu benci pada anak tersebut? Tentu tidak. Kamu melakukannya justru karena kamu sangat menyayanginya dan tidak mau dia terluka parah. Si anak mungkin menangis karena mainannya diambil, tapi kamu tahu itu demi keselamatannya.
Begitu juga cara Bapa mendidik kita.
Saat Tuhan menegurmu, Dia tidak sedang memegang pedang untuk membunuh atau menghancurkanmu. Dia sedang memegang "pisau bedah" (scalpel) layaknya seorang dokter bedah.
Tujuannya bukan untuk melukai, tapi untuk mengangkat "penyakit" (kesombongan, dosa, kebiasaan buruk) dari karaktermu supaya kamu bisa hidup sehat.
Bapa terlalu peduli pada masa depanmu sehingga Dia tidak mau membiarkanmu nyaman dalam kesalahan. Teguran-Nya adalah bukti paling sah bahwa kamu adalah anak-Nya. Orang tua yang membiarkan anaknya melakukan hal yang membahayakan diri sendiri, sebenarnya adalah orang tua yang tidak peduli.
💌 Surat Kecil dari Bapa
(Bayangkan Bapa duduk di hadapanmu, menatapmu dengan sorot mata yang tegas namun penuh dengan kelembutan)
"Anak-Ku, Aku tahu kadang didikan-Ku terasa tidak nyaman, bahkan menyakitkan.
Saat Aku harus menegur keras kesombonganmu, atau saat Aku menghentikan langkahmu yang mengarah pada dosa, percayalah... hati-Ku tidak sedang dipenuhi amarah yang meledak-ledak. Hati-Ku dipenuhi belas kasihan.
Aku melihat ujung dari jalan yang sedang kamu tempuh, dan Aku tidak ingin kamu hancur di sana.
Teguran-Ku bukanlah tanda penolakan. Itu adalah tanda perlindungan.
Aku sedang membentukmu menjadi pribadi yang kuat, utuh, dan siap menerima hal-hal besar yang sudah Aku siapkan untukmu.
Tolong, jangan lari saat nuranimu tertusuk oleh firman-Ku.
Jangan bersembunyi saat Aku mencoba memperbaiki karaktermu. Tetaplah di dekat-Ku. Izinkan rasa sakit sementara ini membuahkan kedamaian yang permanen di hidupmu."
🔥 Langkah Kecil Hari Ini
Hari ini kita belajar untuk merespons teguran dengan hati yang lembut.
1. Evaluasi Diri:
Coba ingat kembali, adakah satu hal yang belakangan ini terus-menerus ditegur oleh Tuhan? (Bisa lewat teguran teman, firman yang kamu baca, atau kegelisahan di hati nurani). Jangan diabaikan lagi.
2. Ubah Cara Pandang:
Saat kamu merasa tertusuk oleh sebuah teguran atau firman, jangan bilang, "Tuhan lagi marah sama aku." Ubah kalimatnya menjadi: "Tuhan lagi menyelamatkan masa depanku."
3. Doa Penyerahan Hak:
Katakan pada Tuhan: "Bapa, aku memberi-Mu izin penuh untuk menegurku dan mengoreksi hidupku, karena aku tahu Engkau melakukannya karena cinta."
🙏 Doa:
Bapa, ampunilah aku karena seringkali aku salah paham dengan didikan-Mu. Aku sering merasa Engkau kejam saat Engkau tidak mengabulkan keinginanku atau saat Engkau menegur kesalahanku. Hari ini aku sadar, semua itu Engkau lakukan karena Engkau sangat peduli padaku. Berikan aku hati yang lembut, Bapa, hati yang mau dibentuk dan diajar, meskipun prosesnya kadang tidak nyaman. Aku percaya tangan-Mu yang mendidik adalah tangan yang sama yang memelukku. Amin.