Bacaan Hari Ini:
"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."
— Mazmur 119:105
Real Talk: Menuntut Peta Buta kepada Tuhan
Usia dua puluhan sering kali dipromosikan sebagai masa-masa paling indah dan bebas dalam hidup. Tapi kenyataannya bagi banyak anak muda, fase ini lebih terasa seperti berjalan di tengah hutan yang dipenuhi kabut tebal tanpa membawa kompas. Orang-orang menyebutnya quarter-life crisis.
Kamu bangun di pagi hari dan tiba-tiba mempertanyakan semua pilihan hidupmu. "Apakah aku salah ambil jurusan kuliah? Apakah pekerjaan ini benar-benar calling-ku atau aku cuma buang-buang waktu? Nanti umur 30 aku bakal jadi apa?" Kamu melihat teman-temanmu sepertinya sudah menemukan passion mereka dan melesat dengan karier yang jelas, sementara kamu merasa terus berputar-putar di tempat yang sama.
Saking paniknya, kamu mulai menuntut Tuhan untuk memberikan "bocoran" masa depan. Kamu datang dalam doa dan berkata, "Tuhan, tolong kasih tunjuk dong peta masa depanku. Kasih tahu aku 5 tahun lagi aku kerja di mana, sama siapa, biar aku bisa tenang ambil keputusan sekarang." Kamu merasa tidak bisa melangkah maju kalau Tuhan tidak membeberkan rancangan besar-Nya secara detail dari A sampai Z. Karena Tuhan seolah diam dan tidak memberikan gambaran besar itu, kamu akhirnya lumpuh. Kamu takut mengambil keputusan karena takut salah langkah dan menghancurkan masa depanmu sendiri.
The Truth: Pelita, Bukan Lampu Sorot
Penulis Mazmur menggunakan metafora yang sangat akurat tentang bagaimana Tuhan memimpin hidup kita. Dia berkata, "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku..."
Di zaman Alkitab, sebuah pelita adalah lampu minyak berukuran kecil. Pelita tidak memiliki daya pancar seperti lampu sorot stadion yang bisa menerangi jalan sampai lima kilometer ke depan. Jangkauan cahaya pelita sangat terbatas; ia hanya mampu menerangi area yang persis ada di depan kaki penggunanya. Jika orang itu diam, cahayanya hanya di situ. Jika ia melangkah maju satu langkah, cahayanya ikut maju menerangi satu langkah berikutnya.
Inilah cara Tuhan bekerja menuntun masa depanmu. Tuhan jarang sekali memberikan blue-print atau peta jalan hidup secara utuh untuk 10 tahun ke depan. Mengapa? Karena jika Dia memberikan semuanya di awal, kamu akan berjalan mengandalkan peta itu dan berhenti mengandalkan-Nya. Tuhan hanya memberikan cukup cahaya untuk satu langkah di depanmu hari ini. Kamu tidak perlu tahu ke mana ujung jalan ini akan bermuara untuk bisa mulai melangkah. Tugasmu bukanlah memecahkan teka-teki masa depanmu, tugasmu hanyalah taat untuk mengambil langkah selanjutnya yang sudah diterangi oleh Tuhan hari ini. Iman berarti kamu tetap berani melangkah satu demi satu, meski kamu belum bisa melihat seluruh anak tangganya.
Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, Aku melihat kebingungan di matamu. Aku tahu kamu merasa tertinggal dan takut salah mengambil jalan.
Berhentilah memaksa-Ku untuk menyingkapkan seluruh rahasia masa depanmu hari ini. Jika Aku memperlihatkan semuanya sekarang, beban itu akan terlalu berat untuk ditanggung oleh bahumu. Kamu belum siap menghadapi pertarungan yang Aku siapkan untukmu lima tahun lagi.
Pegang erat tangan-Ku dan fokuslah pada langkah yang ada di depanmu saat ini. Kamu tidak sedang tersesat; kamu sedang dibimbing. Kerjakan apa yang ada di depan matamu hari ini dengan kesetiaan penuh. Melangkahlah dalam terang yang sudah Ku-berikan, dan saksikan bagaimana Aku akan membukakan jalan tepat pada waktu kamu membutuhkannya."
Langkah Kecil Hari Ini
1. Fokus pada Next Right Thing: Saat kecemasan akan masa depan (5 atau 10 tahun lagi) mulai melumpuhkanmu, tarik napas dan tanyakan pada dirimu: "Apa satu hal baik dan benar yang bisa aku lakukan hari ini?" Lakukan hanya itu.
2. Ubah Tuntutan Menjadi Kepercayaan: Ganti doamu dari "Tuhan, tunjukkan padaku hasil akhirnya" menjadi "Tuhan, berikan aku keberanian untuk mengambil langkah ketaatan pertamaku hari ini."
3. Setia di Perkara Kecil: Jika saat ini kamu merasa terjebak di pekerjaan atau studi yang membosankan dan seolah bukan passion-mu, kerjakan itu dengan standar terbaik. Tuhan sering menggunakan kesetiaan di tempat yang tidak kamu sukai sebagai batu loncatan menuju panggilan sejatimu.
Doa:
Bapa, jujur aku sedang merasa sangat tersesat dan takut salah melangkah. Aku terlalu pusing memikirkan masa depanku sampai aku tidak tahu harus berbuat apa hari ini. Ampuni aku yang selalu menuntut untuk melihat gambaran besarnya terlebih dahulu sebelum mau melangkah. Ajar aku untuk percaya pada cara-Mu menuntunku. Jadilah pelita bagi kakiku hari ini. Berikan aku keberanian untuk mengambil satu langkah ketaatan, dan biarkan aku tenang mengetahui bahwa Engkau sudah memegang hari esokku. Amin.