Bacaan Hari Ini:
"Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: 'Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?' Jawab Petrus kepada-Nya: 'Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.' Kata Yesus kepadanya: 'Gembalakanlah domba-domba-Ku.'"
— Yohanes 21:15
Real Talk: Mundur Karena Malu
Pernahkah kamu melakukan satu kesalahan yang sangat fatal sampai kamu berpikir, "Udah, ini kiamat. Aku nggak pantas lagi dipercaya"?
Apalagi jika posisi yang sedang kamu pegang cukup krusial. Bayangkan kamu sedang memimpin puluhan orang, kamu sudah menyusun SOP dan membagi divisi dengan rapi, atau kamu sedang memegang kendali atas sebuah acara besar berskala regional. Namun, di tengah jalan, kamu membuat keputusan yang salah. Acaranya berantakan, target tidak tercapai, atau lebih buruk lagi, kamu gagal menjaga integritasmu sendiri sebagai seorang pemimpin. Rasa bersalahnya begitu mencekik karena kamu tahu ada banyak orang yang menaruh harapan di pundakmu, dan kamu mengecewakan mereka semua.
Insting pertama saat kita mengalami "gagal total" adalah melarikan diri. Kamu ingin membuang semua jabatanmu. Kamu merasa tidak layak lagi melayani Tuhan, memimpin komunitas, atau bahkan sekadar menampakkan wajah di tongkrongan. Kamu berpikir bahwa satu kegagalan besar itu telah menghapus semua kerja keras dan kebaikan yang pernah kamu bangun. Kamu memecat dirimu sendiri sebelum dunia memecatmu.
The Truth: Dia Tidak Memecatmu
Jika ada orang yang paling pantas dipecat dari posisinya, itu adalah Petrus. Petrus bukanlah orang sembarangan; dia adalah "ketua" dari para murid. Dia yang paling lantang berjanji untuk pasang badan membela Yesus sampai mati. Namun saat krisis benar-benar terjadi, Petrus justru menyangkal Yesus tiga kali secara pengecut, bahkan sampai mengutuk. Petrus gagal total sebagai murid, sebagai sahabat, dan sebagai pemimpin. Ia hancur lebur dan akhirnya kembali ke pekerjaan lamanya sebagai nelayan, merasa bahwa panggilannya sudah tamat.
Tapi perhatikan apa yang Yesus lakukan di Yohanes 21. Setelah Yesus bangkit, Dia sengaja mencari Petrus di pinggir pantai. Dia menyiapkan sarapan untuk Petrus. Lalu datanglah momen evaluasi itu. Yesus tidak membentak Petrus. Dia tidak mengungkit-ungkit, "Bisa-bisanya kamu nyangkal Aku, padahal kamu ketuanya!"
Yesus hanya menanyakan satu hal, "Apakah engkau mengasihi Aku?"
Ketika Petrus menjawab iya, Yesus tidak memberinya hukuman masa percobaan; Yesus justru memulihkan posisinya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Yesus membuktikan bahwa kegagalan terburukmu tidak pernah bisa membatalkan panggilan-Nya atas hidupmu. Di mata manusia, kegagalan fatal mungkin adalah akhir dari karier atau reputasimu, tapi di mata Tuhan, itu sering kali adalah proses penghancuran kesombongan agar kamu bisa memimpin dengan lebih rendah hati. Gagal bukan berarti kiamat. Tuhan selalu ahli memberikan kesempatan kedua.
Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, Aku melihatmu menunduk dalam rasa malu. Kamu terus memutar ulang kesalahan itu di kepalamu dan menghukum dirimu sendiri karena merasa tidak pantas lagi menjadi alat-Ku.
Angkat kepalamu. Kapan Aku pernah berkata bahwa Aku mencabut panggilanmu? Kegagalanmu tidak mengejutkan-Ku, dan itu sama sekali tidak mengubah nilai dirimu di mata-Ku. Aku tidak memilihmu karena kamu sempurna; Aku memilihmu karena Aku tahu kamu mau dibentuk.
Berhentilah bersembunyi di balik rasa bersalahmu. Jangan membuang tanggung jawab yang sudah Ku-percayakan hanya karena kamu tersandung. Aku sudah mengampunimu. Sekarang, bangkitlah, bersihkan debu dari pakaianmu, dan kembalilah menggembalakan jiwa-jiwa yang Aku percayakan padamu dengan kasih yang baru."
Langkah Kecil Hari Ini
1. Cabut Surat Pengunduran Dirimu: Jika hari ini kamu sedang berniat lari dari tanggung jawab (pelayanan, komunitas, atau tugas penting) karena merasa gagal, batalkan niat itu. Bertahanlah dan selesaikan apa yang sudah kamu mulai, meski harus menahan gengsi.
2. Terima Evaluasi: Orang yang bangkit dari kegagalan harus berani dievaluasi. Jika kegagalanmu berdampak pada tim, kumpulkan mereka, beranikan diri untuk meminta maaf secara terbuka, dan jadikan itu bahan evaluasi bersama tanpa menyalahkan orang lain.
3. Fokus pada Pertanyaan Utama: Saat pikiran menuduhmu tidak layak, ingatlah bahwa Tuhan hanya bertanya satu hal: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Jawablah "Ya", dan biarkan kasih itu menjadi bahan bakar barumu untuk melangkah maju.
Doa:
Bapa, rasa bersalah karena kegagalanku ini sangat berat. Aku merasa telah mengecewakan-Mu dan mengecewakan orang-orang yang ada di bawah tanggung jawabku. Aku merasa tidak pantas lagi memimpin atau melayani. Tapi kisah Petrus hari ini memberiku harapan. Terima kasih karena Engkau tidak pernah membuangku atau mencabut panggilan-Mu atas hidupku. Tuhan Yesus, aku mengasihi-Mu. Tolong pulihkan hatiku, pulihkan keadaanku, dan berikan aku keberanian untuk menggunakan kesempatan kedua ini dengan jauh lebih baik. Amin.