Bacaan Hari Ini:
"Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: 'Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.'"
— Lukas 19:5
Real Talk: Terjebak dalam Peran "Villain"
Masyarakat kita sangat hobi memberikan label. Sekali kamu melakukan kesalahan besar, orang-orang seolah menempelkan stiker permanen di dahimu: "Si Tukang Selingkuh", "Si Manipulatif", "Si Pembuat Onar", atau "Si Muka Dua".
Saat kamu sudah mendapat cap sebagai "orang jahat" atau villain di circle pertemananmu, rasanya hampir mustahil untuk bisa keluar dari kotak itu. Orang-orang mulai mendefinisikan seluruh eksistensimu hanya dari satu kesalahan terburukmu. Bahkan ketika kamu sadar dan berusaha ingin berubah menjadi lebih baik, lingkungan sering kali menertawakanmu. Mereka berkata sinis, "Halah, pencitraan doang," atau "Nggak usah sok suci deh, kita tahu aslinya lo kayak gimana."
Akhirnya, banyak anak muda yang menyerah. Mereka berpikir, "Ya udahlah, kalau dunia emang udah nge-cap gue jahat, mending gue sekalian aja jadi orang brengsek." Kamu memakai label buruk itu sebagai tameng karena kamu pikir tidak ada lagi yang percaya bahwa kamu masih punya sisi baik.
The Truth: Dia Memanggil Namamu, Bukan Dosamu
Di zaman Yesus, Zakheus adalah definisi nyata dari villain. Dia adalah kepala pemungut cukai—pekerjaan yang berarti ia mengkhianati bangsanya sendiri demi bekerja pada penjajah Romawi, memeras uang rakyat kecil, dan menimbun kekayaan lewat korupsi. Semua orang di kota Yerikho membencinya. Labelnya sangat jelas: Pengkhianat dan Pendosa Kelas Kakap.
Tapi lihatlah apa yang terjadi saat Yesus melewati pohon ara tempat Zakheus bersembunyi. Yesus berhenti, menatap lurus ke atas, dan memanggilnya. Yesus tidak berkata, "Hai koruptor, turun kamu!" atau "Hai pengkhianat, bertobatlah!"
Yesus memanggilnya dengan namanya: "Zakheus." (Yang ironisnya, nama Zakheus memiliki arti "Murni" atau "Benar").
Saat seluruh kota melihat Zakheus sebagai parasit yang menjijikkan, Yesus melihatnya sebagai anak yang terhilang dan kesepian. Yesus menembus tumpukan dosa dan harta hasil korupsi Zakheus, lalu berbicara langsung kepada identitas aslinya. Dan yang paling gila: Yesus mengundang diri-Nya sendiri untuk menginap di rumah Zakheus sebelum Zakheus bertobat atau mengembalikan uang hasil korupsinya.
Penerimaan Yesus yang radikal itulah yang menghancurkan hati Zakheus. Ia berubah total bukan karena dimarahi atau dihukum, tapi karena ada Seseorang yang bersedia melihat nilai dirinya di luar label buruk yang menempel padanya. Yesus melakukan hal yang sama padamu. Di saat dunia mendefinisikanmu dari keburukanmu, Tuhan mendefinisikanmu dari kasih karunia-Nya.
Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, Aku tahu bagaimana rasanya dihakimi dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarmu. Aku melihat saat kamu hampir menyerah pada dirimu sendiri karena merasa terlalu buruk untuk diperbaiki.
Tapi dengarlah baik-baik: Label yang diberikan manusia kepadamu bukanlah identitasmu. Masa lalumu, reputasi burukmu, atau kegagalanmu tidak pernah mendikte namamu di surga.
Saat dunia memanggilmu dengan daftar dosa dan kesalahanmu, Aku memanggilmu dengan nama panggilan kesayangan-Ku. Aku melihat rasa sakit dan kebingungan di balik sikap defensifmu. Turunlah dari tempat persembunyianmu. Hari ini, Aku mau masuk dan memulihkan rumah hatimu. Kamu bukan kegagalanmu; kamu adalah anak-Ku."
Langkah Kecil Hari Ini
1. Lepaskan Stiker di Dahimu: Apa label buruk yang selama ini kamu biarkan mendefinisikan dirimu (misal: "Si Bodoh", "Si Gagal", "Si Pemarah")? Hari ini, secara sadar katakan pada dirimu sendiri: "Label itu adalah masa laluku, bukan identitas asliku."
2. Berhenti Meng- Cancel Orang Lain: Coba ingat satu orang di kampus, gereja, atau tempat kerjamu yang saat ini sedang dimusuhi atau diberi label buruk oleh banyak orang. Ubah cara pandangmu. Berdoalah untuknya agar ia bisa menemukan jalan pulang.
3. Beri Ruang untuk Berubah: Jika ada seseorang yang pernah menyakitimu dan kini berusaha menjadi lebih baik, jangan tertawakan usahanya. Berikan ia kesempatan kedua, persis seperti Tuhan memberikan kesempatan kepadamu.
Doa:
Bapa, terima kasih karena Engkau tidak pernah memanggilku dengan daftar keburukanku. Saat dunia memberiku label sebagai 'orang bermasalah' atau 'orang jahat', Engkau menembus semua itu dan tetap melihatku sebagai anak-Mu yang berharga. Ampuni aku jika selama ini aku juga sering memberi cap buruk secara permanen kepada orang lain dan tidak percaya bahwa mereka bisa berubah. Ubah mataku, Tuhan Yesus, agar aku bisa melihat diriku dan orang-orang di sekitarku dengan kacamata kasih karunia-Mu. Amin.