Bacaan Hari Ini:
"Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: 'Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.'"
Yohanes 8:7
Real Talk: Pengadilan Kejam Bernama Media Sosial
Kita hidup di era di mana kesalahan sekecil apa pun bisa menjadi tontonan publik. Satu kalimat yang salah ketik, satu tindakan ceroboh yang terekam kamera, atau satu masa lalu yang terbongkar, sudah cukup untuk membuat seseorang dihancurkan secara massal. Kita mengenalnya dengan sebutan "cancel culture".
Dunia maya tidak mengenal kata ampun. Orang-orang berlomba menjadi hakim yang paling suci. Bukti chat disebar (dijadikan receipts), aib dikuliti habis-habisan, dan kolom komentar berubah menjadi arena pelemparan batu modern. Mungkin kamu pernah berada di posisi itu, entah dalam skala kecil di komunitasmu kampusmu atau di lingkaran pertemananmu. Sebuah kesalahan yang kamu lakukan terbongkar. Kamu merasa ditelanjangi di depan umum. Semua orang berbisik, menatapmu dengan jijik, dan bersiap membuangmu dari pergaulan. Rasa malu dan takut itu membuatmu ingin menghilang dari muka bumi. Kamu merasa tidak ada lagi yang mau membelamu karena secara teknis, kamu memang bersalah.
The Truth: Dia Berdiri Menghadap Massa
Kisah perempuan yang tertangkap basah berbuat zina ini adalah contoh pengadilan massa paling menakutkan di zaman kuno. Para pemuka agama menyeret perempuan ini ke tengah keramaian. Mereka punya buktinya, mereka punya dasar hukumnya, dan mereka punya batu di tangan masing-masing. Mereka siap mengeksekusi dan menghancurkan hidupnya saat itu juga.
Tapi lihatlah apa yang Yesus lakukan. Dia tidak ikut-ikutan mengambil batu. Dia juga tidak membenarkan perbuatan zina perempuan itu. Yesus justru mengambil posisi yang sangat berbahaya: Dia melangkah maju dan berdiri di antara perempuan yang bersalah itu dengan massa yang sedang marah. Dia menjadi tameng.
Satu kalimat dari Yesus membuat pengadilan massal itu bubar: "Barangsiapa yang tidak berdosa, silakan lempar batu pertama." Yesus membungkam kemunafikan dunia. Yesus adalah satu-satunya pribadi di sana yang benar-benar tidak berdosa dan berhak melempar batu, tapi Dia memilih untuk melepaskan batu-Nya dan memberikan pengampunan.
Saat dunia ini siap memviralkan kesalahanmu, saat teman-temanmu berbalik menyerangmu, dan saat kamu merasa pantas untuk dihancurkan, Yesus tidak akan pernah ikut bergabung dengan mereka untuk meneriakimu. Dia akan berdiri membelamu, membungkam para penuduhmu, dan memberimu kesempatan untuk memulai hidup yang baru.
Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, Aku melihat betapa gemetarnya dirimu saat dunia menghakimimu. Rasa malu itu terasa seperti menekan dadamu sampai kamu tidak bisa bernapas.
Mereka mungkin benar tentang kesalahanmu, tapi mereka salah tentang nilai hidupmu. Aku tidak pernah mengizinkan siapa pun, betapa pun terlihat sucinya mereka, untuk menghancurkan hidup yang telah Ku-tebus dengan darah-Ku sendiri.
Bersembunyilah di belakang-Ku. Biarkan Aku yang menghadapi tatapan sinis dan kata-kata tajam mereka. Kamu aman di sini. Aku tidak menyelamatkanmu supaya kamu bisa kembali berbuat dosa, tapi Aku melindungimu supaya kamu tahu betapa berharganya dirimu bagi-Ku. Bangkitlah, Aku tidak menghukummu."
Langkah Kecil Hari Ini
1. Letakkan Batumu: Periksa dirimu hari ini. Apakah kamu sedang ikut-ikutan menghakimi, menyebarkan gosip, atau mem-bully seseorang yang sedang berbuat salah di media sosial maupun di kampus? Berhentilah. Kamu juga butuh pengampunan Tuhan.
2. Berhenti Membela Diri: Jika kamu memang melakukan kesalahan dan orang-orang sedang menyudutkanmu, jangan buang energi untuk berdebat atau mencari pembenaran. Bawa rasa bersalahmu langsung kepada Tuhan, Sang Hakim yang adil.
3. Tatap Masa Depan, Bukan Tuduhan: Apa pun kesalahan fatal di masa lalumu yang diketahui orang lain, ingatlah bahwa Tuhan sudah berkata "Aku pun tidak menghukum engkau". Jangan izinkan tuduhan manusia menghentikan langkahmu hari ini.
Doa:
Bapa, terima kasih karena Engkau adalah pelindungku. Saat dunia siap menghancurkanku dan mengingat semua aibku, Engkau justru berdiri sebagai tamengku. Engkau membungkam para penuduhku dengan kasih karunia. Ampuni aku jika selama ini aku juga sering menjadi hakim yang kejam bagi kesalahan orang lain. Tolong aku untuk meletakkan batuku, dan ajar aku untuk memandang orang lain dengan belas kasihan yang sama seperti yang Engkau berikan kepadaku. Amin.