Bacaan Hari Ini:
"Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: 'Eli, Eli, lama sabakhtani?' Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
Matius 27:46
Real Talk: Kesunyian yang Menyesakkan
Pernahkah kamu berada di titik di mana kamu sudah melakukan semuanya dengan benar? Kamu sudah berdoa sampai air matamu habis, kamu sudah berpuasa, kamu sudah berusaha tetap setia meski keadaan sulit. Namun, alih-alih mendapatkan jawaban atau rasa damai, yang kamu dapatkan hanyalah keheningan yang panjang dari Tuhan.
Rasanya seolah-olah doamu hanya memantul di langit-langit kamar dan jatuh kembali ke lantai. Kamu mulai bertanya-tanya, "Tuhan, Engkau denger nggak sih? Apa aku ada dosa tersembunyi yang bikin Engkau tutup telinga? Atau memang Engkau sudah nggak peduli lagi sama aku?" Kesunyian Tuhan sering kali terasa lebih menyakitkan daripada masalah itu sendiri. Di tengah kebisingan dunia, merasa "ditinggalkan" oleh satu-satunya pribadi yang kamu harapkan adalah puncak dari segala rasa kesepian. Kamu merasa doamu sia-sia, dan imanmu mulai terasa seperti beban yang ingin kamu letakkan saja.
The Truth: Dia Pernah Berada di Titik Tergelapmu
Kabar yang paling menghibur dari seluruh Alkitab adalah kenyataan bahwa Tuhan sendiri pernah merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat ini.
Saat Yesus tergantung di atas kayu salib, menanggung seluruh dosa manusia, Ia tidak hanya menderita secara fisik. Ia mengalami krisis yang paling mengerikan: perpisahan total dengan Bapa-Nya. Seruan-Nya, "Mengapa Engkau meninggalkan Aku?", bukanlah sekadar akting atau formalitas. Itu adalah jeritan jujur dari seorang manusia yang merasa benar-benar ditinggalkan sendirian dalam kegelapan.
Ini berarti, saat kamu merasa doamu tidak didengar, kamu tidak sedang sendirian. Yesus sudah pernah berada di sana. Ia mengerti rasa sesak saat tidak ada jawaban yang datang. Ia mengerti rasa frustrasi saat langit terasa seperti perunggu yang keras. Kebenaran yang harus kamu pegang adalah ini: Perasaan ditinggalkan tidak sama dengan kenyataan ditinggalkan. Yesus merasa ditinggalkan agar kamu, dalam keadaan apa pun, tidak akan pernah benar-benar ditinggalkan oleh Bapa. Keheningan Tuhan bukanlah bukti ketidakhadiran-Nya; sering kali, itu adalah tanda bahwa Dia sedang bekerja di level yang belum bisa kamu pahami. Jangan berhenti berseru, karena Dia yang pernah merasa ditinggalkan, kini sedang memegang tanganmu dengan sangat erat.
Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, Aku tahu seberapa keras kamu berteriak dalam diammu. Aku melihat setiap kali kamu menatap langit dengan tatapan kosong dan bertanya-tanya di mana Aku berada.
Tolong, jangan biarkan perasaanmu mendikte kebenaran tentang diri-Ku. Saat Aku diam, bukan berarti Aku telah pergi. Saat doamu terasa tidak sampai ke telinga-Ku, Aku sebenarnya sedang berada di sampingmu, menopang beban yang hampir menghancurkanmu.
Aku tidak pernah tersinggung dengan pertanyaanmu atau rasa putus asamu. Anak-Ku sendiri pernah meneriakkan hal yang sama di atas kayu salib. Aku sangat mengerti rasa sakitmu. Tetaplah di sana, Nak. Jangan lepaskan peganganmu. Fajar akan segera tiba, dan kamu akan menyadari bahwa di tengah keheningan yang paling sunyi sekalipun, Aku tidak pernah sedetik pun memalingkan wajah-Ku darimu."
Langkah Kecil Hari Ini
1. Jujurlah dalam Doa: Berhentilah mencoba terdengar "suci" di depan Tuhan. Jika hari ini kamu merasa marah, kecewa, atau lelah dengan diamnya Tuhan, katakan itu secara blak-blakan kepada-Nya. Kejujuran adalah awal dari keintiman yang baru.
2. Pegang Janji, Bukan Perasaan: Saat perasaanmu bilang Tuhan jauh, segera lawan dengan membaca satu janji Tuhan (seperti Ibrani 13:5b). Katakan pada dirimu sendiri: "Perasaanku menipu, tapi Firman-Nya tetap."
3. Terus Muncul: Meskipun rasanya malas untuk berdoa atau membaca Firman karena seolah tidak ada gunanya, tetaplah luangkan waktu. Kesetiaan di masa kering adalah pengorbanan yang sangat berharga di mata Tuhan.
Doa:Bapa, jujur aku sangat lelah dengan keheningan ini. Aku merasa doaku tidak sampai kepada-Mu dan aku merasa sendirian menghadapi semua ini. Terima kasih, Yesus, karena Engkau pernah merasakan hal yang sama, sehingga aku tahu Engkau sangat mengerti rasa sakitku. Tolong bantu aku untuk tidak menyerah pada perasaanku. Berikan aku kekuatan untuk tetap percaya meski aku tidak melihat apa-apa, dan ingatkan aku bahwa Engkau selalu menyertaiku sampai akhir zaman. Amin.