Bacaan Hari Ini:
"Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
Markus 6:3
Real Talk: Kalah Sebelum Bertanding
Kata "privilege" (hak istimewa) mungkin adalah salah satu kata yang paling sering membuat anak muda zaman sekarang merasa insecure dan putus asa.
Kamu membuka media sosial dan melihat teman-temanmu seolah bisa berlari dengan sangat mudah. Ada yang baru lulus langsung mendapat posisi enak karena koneksi ayahnya. Ada yang bisa tenang merintis usaha atau fokus pada hobi karena dimodali penuh oleh keluarganya; kalaupun gagal, hidup mereka tetap aman.
Sementara kamu? Kamu harus memulai semuanya benar-benar dari nol atau bahkan dari minus. Kamu harus bekerja mati-matian sambil kuliah, menabung lama hanya untuk membeli alat kerja yang layak, dan kadang gajimu harus langsung dipotong untuk membantu kebutuhan rumah. Di saat kamu mencoba bermimpi besar, lingkungan atau bahkan keluargamu sendiri kadang mematahkan semangatmu. Mereka memandang latar belakangmu dan berkata sinis, "Sadar diri aja, kita ini orang biasa, nggak usah mimpi ketinggian." Kamu merasa dunia ini sangat tidak adil. Kamu merasa diremehkan bahkan sebelum kamu diberi kesempatan untuk membuktikan dirimu, hanya karena orang tuamu bukan siapa-siapa.
The Truth: Tukang Kayu dari Kampung yang Diremehkan
Jika ada orang yang sangat mengerti rasanya tidak punya privilege di dunia ini, Dia adalah Yesus.
Bapa di surga bisa saja mengatur agar Yesus lahir sebagai anak Kaisar Romawi yang punya kekuasaan tak terbatas, atau sebagai anak Imam Besar di kota metropolitan Yerusalem yang punya koneksi elite. Tapi Bapa memilih Nazaret sebuah desa kecil yang saking terbelakangnya sampai sering dijadikan bahan ejekan di zaman itu. Yesus dibesarkan di rumah keluarga pekerja kasar. Selama puluhan tahun sebelum pelayanan-Nya dimulai, Yesus bekerja sebagai tukang kayu. Dia tahu persis rasanya memegang palu sampai telapak tangan kapalan, berkeringat di bawah terik matahari, dan bekerja keras hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Saat Ia mulai mengajar, orang-orang di kampung halaman-Nya menolak dan meremehkan-Nya. Mereka memandang silsilah-Nya dan berkata, "Bukankah Dia ini cuma tukang kayu? Bukankah ibu dan saudara-saudaranya orang biasa yang hidup di tengah kita?" Mereka menghakimi kapasitas Yesus berdasarkan status ekonomi keluarganya.
Yesus tahu betapa perihnya dipandang sebelah mata. Karena itu, saat kamu lelah berjuang tanpa bantuan "orang dalam" atau modal besar, Yesus tidak menatapmu dengan simpati yang kosong; Dia menatapmu dengan pengertian yang sangat dalam. Dia telah membuktikan bahwa panggilan Tuhan atas hidupmu tidak akan pernah bisa digagalkan oleh kondisi dompet orang tuamu. Privilege terbesarmu bukanlah nama belakang keluargamu, melainkan nama Tuhan yang tertulis di dalam hatimu.
Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, Aku melihat keringatmu dan seberapa keras kamu harus berjuang hari ini. Aku tahu ada rasa lelah dan iri saat kamu melihat orang lain bisa mendapatkan kemudahan yang tidak kamu miliki.
Tolong jangan pernah malu dengan latar belakang keluargamu. Aku tidak pernah salah menempatkanmu. Dunia mungkin menilaimu dari apa yang ayah dan ibumu miliki, tapi Aku menilaimu dari apa yang sudah Ku-taruh di dalam rohmu.
Jangan berkecil hati saat mereka meremehkan langkah awalmu yang sederhana. Teruslah bekerja keras dengan jujur. Tidak perlu mencari-cari 'orang dalam' untuk sukses, karena Aku sendiri yang akan membukakan pintu-pintu yang tidak bisa dibuka oleh kekuatan uang atau koneksi manusia. Berjalanlah dengan kepala tegak, Nak. Kamu adalah anak Sang Raja."
Langkah Kecil Hari Ini
1. Berhenti Menghakimi Orang Tuamu: Jika selama ini kamu menyimpan diam-diam rasa kesal karena orang tuamu tidak sekaya atau sehebat orang tua temanmu, ampuni mereka hari ini. Mereka mungkin sudah memberikan versi terbaik dari apa yang mereka miliki.
2. Ubah Fokus "Privilege"mu: Setiap kali pikiran mengeluh tentang "aku nggak punya modal" itu datang, segera ganti dengan deklarasi: "Aku memang nggak punya privilege dunia, tapi aku punya Tuhan yang sanggup mencukupiku."
3. Kerjakan Bagianmu dengan Bangga: Apa pun pekerjaan, studi, atau proyek kecil yang sedang kamu bangun dengan susah payah hari ini, kerjakan dengan standar terbaik. Banggalah pada proses berdarah-darah yang sedang kamu lewati.
Doa:
Bapa, jujur kadang aku merasa iri dan lelah saat melihat orang lain bisa hidup begitu mudah karena privilege keluarga mereka. Aku sering merasa tidak adil karena harus memulai dari titik paling bawah dan sering diremehkan. Terima kasih, Yesus, karena Engkau pernah menjadi tukang kayu biasa. Engkau tahu persis rasa lelahku. Hari ini aku menyerahkan masa depanku kepada-Mu. Tolong cabut akar kepahitan dan rasa rendah diriku. Jadilah jaminanku dan bekal utamaku untuk melangkah maju. Amin.