Bacaan Hari Ini:
"Untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka 'pohon tarbantin kebenaran', 'tanaman TUHAN' untuk memperlihatkan keagungan-Nya."
Yesaya 61:3
Real Talk: Menggenggam Sisa-Sisa Pembakaran
Kamu telah sampai di titik akhir dari perjalanan panjang ini. Coba lihat kembali ke belakang, dan tataplah jujur apa yang ada di tanganmu saat ini.
Setelah melewati krisis pencarian jati diri, menghadapi pengadilan dunia maya yang kejam, bertahan dari tekanan untuk selalu tampil sempurna, dan melewati rasa sakit dari pengkhianatan, terkadang rasanya yang tersisa di genggamanmu hanyalah abu. Abu dari impian yang sempat gagal, abu dari persahabatan yang hancur, atau abu dari waktu yang terbuang karena kamu salah melangkah.
Abu adalah simbol dari sesuatu yang sudah habis terbakar. Secara logika manusia, abu tidak lagi memiliki nilai. Abu tidak bisa direkatkan kembali, tidak bisa dibangun, dan hanya akan terbang tertiup angin. Sering kali, saat menatap sisa-sisa kehancuran hidupmu, kamu berpikir pasrah, "Babak hidupku sudah tamat. Tidak ada lagi yang bisa dibangun dari debu sisa kebakaran ini." Kamu merasa terlalu kotor dan terlalu hancur untuk bisa berguna kembali.
The Truth: Sang Perancang Menata Ulang Kepinganmu
Di sinilah keahlian Tuhan yang sesungguhnya bekerja. Dunia membutuhkan bahan baku yang mahal untuk membuat sesuatu yang indah, tapi Bapa di surga memiliki spesialisasi untuk menciptakan mahakarya dari sisa-sisa kehancuran.
Yesaya 61:3 memuat salah satu janji pertukaran yang paling tidak masuk akal namun paling indah dalam sejarah: Tuhan memintamu menyerahkan abu kehancuranmu, dan sebagai gantinya, Ia menaruh sebuah mahkota (perhiasan kepala) di atasmu. Sama seperti seorang desainer yang dengan teliti menata ulang kepingan-kepingan data yang berantakan menjadi sebuah sistem yang indah dan memberikan ruang teduh bagi penggunanya, Tuhan sedang menata ulang puing-puing hidupmu.
Masa lalumu yang hancur tidak dibuang; itu justru diubah menjadi bahan baku untuk mahkotamu. Air matamu, trauma masa lalumu, usahamu yang sempat gagal, dan perjuanganmu melawan rasa takut kini diubah menjadi sebuah kesaksian hidup yang akan menuntun banyak anak muda lain di komunitasmu menuju terang. Jika hari ini kamu merasa hidupmu sedang hancur lebur atau belum mencapai garis akhir yang kamu harapkan, angkat kepalamu. Sang Pencipta tidak pernah merilis karya yang gagal. Dia belum selesai denganmu. Abu itu bukanlah akhir kisahmu; Bapa baru saja menutup draf yang lama, dan bersiap merilis babak kehidupanmu yang paling brilian.
Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, berhentilah menangisi abu yang ada di tanganmu. Kamu tidak perlu menyembunyikan sisa-sisa kegagalan itu dari-Ku.
Bawalah semuanya ke hadapan-Ku. Serahkanlah abu kekecewaanmu, abu kelelahanmu, dan abu masa lalumu. Biarkan tangan-Ku membersihkanmu. Ketahuilah, Aku tidak melihatmu sebagai sebuah kegagalan yang tidak bisa diperbaiki. Di mata-Ku, kamu adalah mahakarya yang sedang dipoles.
Terimalah mahkota kebenaran ini. Terimalah minyak sukacita-Ku. Tegakkan kepalamu, Anak-Ku. Babak yang penuh air mata telah berlalu, dan hari ini, Aku sedang memulai lembaran terbaik dalam hidupmu. Berjalanlah dengan penuh kemenangan, karena Aku beserta denganmu."
Langkah Kecil Hari Ini
1. Serahkan Abunya: Tuliskan di selembar kertas semua "abu" (kegagalan, trauma, kebiasaan buruk) yang selama ini menghantuimu. Lalu, sobek atau bakar kertas itu sebagai simbol bahwa kamu menyerahkannya kepada Tuhan secara total.
2. Kenakan Identitas Barumu: Berhentilah menyebut dirimu dengan sebutan masa lalumu (misal: "aku si gagal", "aku si pemarah"). Mulai hari ini, sebut dirimu seperti Tuhan menyebutmu: Ciptaan Baru yang berharga.
3. Melangkah ke Babak Baru: Tutup buku masa lalumu hari ini. Jangan menengok ke belakang lagi. Tatap masa depanmu dan komunitas yang ada di sekitarmu, lalu melangkahlah dengan kepala tegak untuk membagikan keteduhan dan harapan yang telah kamu terima dari Tuhan.
Doa:
Bapa yang baik, terima kasih untuk perjalanan yang luar biasa ini. Terima kasih karena Engkau tidak pernah menyerah terhadapku, bahkan ketika aku sendiri rasanya ingin menyerah. Hari ini, aku menyerahkan seluruh sisa-sisa abuku, kegagalanku, dan masa laluku ke dalam tangan-Mu. Terima kasih untuk pertukaran yang ajaib ini; Engkau mengambil abuku dan menggantinya dengan mahkota kehidupan. Aku percaya, Engkau belum selesai denganku. Ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak terbaik dalam hidupku untuk memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, Amin.