Bacaan Hari Ini:
"Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."
Yesaya 41:10
Real Talk: Tombol "Block" yang Terasa Sangat Berat
Pernahkah kamu duduk sendirian, memegang handphone-mu, dan membuka profil seseorang yang kamu tahu persis terus-menerus merusak hidupmu?
Jarimu berada tepat di atas tombol "Block" atau "Leave Group". Logikamu berteriak keras bahwa kamu harus memutus hubungan ini. Kamu tahu lingkaran pergaulan ini beracun. Kamu tahu hubungan ini membuatmu makin jauh dari Tuhan. Kamu tahu kamu harus memulai lembaran baru. Tapi anehnya, kamu tidak berani menekan tombol itu. Jantungmu berdebar keras, napasmu menjadi pendek, dan tanganmu benar-benar gemetar.
Ketakutan mulai menyergap pikiranmu. "Kalau aku keluar, nanti aku sendirian gimana? Kalau aku blokir nomor dia, nanti dia marah dan nyebarin keburukanku gimana? Apa aku sanggup mulai semuanya dari nol lagi?" Pada akhirnya, kamu kembali meletakkan handphone itu tanpa melakukan apa-apa. Kamu memilih untuk tetap tinggal di lingkungan yang menyakitimu hanya karena jalan keluar di depanmu terlihat terlalu menakutkan dan sepi. Kamu menunggu rasa takut itu hilang sebelum bertindak, tapi rasa takut itu tidak pernah pergi.
The Truth: Keberanian Bukanlah Ketiadaan Rasa Takut
Kita sering memiliki definisi yang salah tentang keberanian. Kita mengira orang yang berani adalah orang yang tidak punya rasa takut sama sekali. Padahal, itu bukan berani; itu mati rasa. Keberanian sejati adalah ketika kakimu gemetar hebat, hatimu dipenuhi ketakutan, tetapi kamu tetap mengambil satu langkah maju karena kamu tahu itu adalah hal yang benar.
Perhatikan janji Tuhan dalam Yesaya 41:10. Tuhan tidak pernah membentakmu dan berkata, "Berhentilah menangis dan gemetar, dasar lemah!" Sebaliknya, Dia datang sebagai sosok pelindung dan berkata, "Jangan takut, Aku menyertaimu. Aku akan memegang tangan kananmu." Tuhan tahu persis bahwa mengambil keputusan untuk memutus pergaulan yang salah, mengakhiri kebiasaan buruk, atau menolak kompromi dosa itu sangat menakutkan. Tapi Tuhan tidak bisa menulis babak baru yang indah dalam hidupmu, jika kamu masih bersikeras memegang pena masa lalumu yang beracun. Keputusan ada di tanganmu. Bapa sudah menyiapkan jalan yang aman di depan, tapi kamu harus berani mengangkat kaki dan melangkah keluar dari tempatmu sekarang. Jangan biarkan masa depanmu disandera oleh ketakutan sesaat.
Surat Kecil dari Bapa
"Anak-Ku, Aku melihat tanganmu yang gemetar saat kamu harus mengambil keputusan sulit itu. Aku tahu kamu takut dengan apa yang akan terjadi esok hari jika kamu melepaskan peganganmu dari mereka.
Percayalah pada-Ku. Ruang kosong dan kesepian yang kamu rasakan setelah meninggalkan lingkungan yang salah itu, akan segera Ku-isi dengan kedamaian yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian.
Rentangkan tanganmu. Genggam tangan-Ku erat-erat. Lakukan apa yang harus kamu lakukan hari ini. Tarik napas yang panjang, tutup matamu jika kamu harus, dan melangkahlah. Aku yang akan menanggung segala risikonya, dan Aku yang akan membelamu dari mereka yang mencoba menjatuhkanmu."
Langkah Kecil Hari Ini
1. Eksekusi Hari Ini: Jangan ditunda lagi. Blokir nomor kontak itu. Tinggalkan grup obrolan yang merusak mental dan kerohanianmu. Hapus aplikasi yang selalu memancingmu berbuat dosa. Lakukan dengan tangan yang gemetar, tidak apa-apa, yang penting lakukan.
2. Jangan Menengok ke Belakang: Setelah kamu membuat keputusan tegas hari ini, godaan untuk kembali (merasa kasihan atau kangen) pasti akan datang. Saat itu terjadi, ingatkan dirimu betapa hancurnya kamu saat masih berada di sana.
4. Rayakan Keberanianmu: Mengambil keputusan sulit sangat menguras energi. Setelah kamu melakukannya, beristirahatlah. Tarik napas dan apresiasi dirimu sendiri karena telah memilih untuk taat.
Doa:
Bapa, hari ini aku mengaku bahwa aku sangat takut. Kakiku gemetar untuk mengambil keputusan yang benar. Aku takut kesepian, dan aku takut memulai semuanya dari awal. Tapi aku tidak mau lagi hidup dikendalikan oleh ketakutan ini. Tuhan, pegang tangan kananku hari ini. Berikan aku kekuatan untuk menekan tombol itu, untuk pergi, dan untuk tidak menengok ke belakang lagi. Aku percaya Engkau sudah menyiapkan perlindungan untukku di depan sana. Amin.